BERPIKIR DARI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Nama : Faqih Aulia Akbar Rasyid
NRP : H54100030
Laskar : 30
BERPIKIR DARI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA
Januari, 2010. Saya masih teringat sewaktu Saya dan orang tua berbelanja di pusat pasar tradisional yang terletak di kawasan BSD, Tangerang, Banten. Sambil menunggu orang tua yang sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari, Saya disuruh untuk menunggu barang-barang didekat pintu keluar yang berada dekat sekali dengan lapangan parkir. Saya tertegun dan melihat seorang anak kecil buta duduk bersila di tangga dekat dengan toko kelontong yang berada masih di dalam pasar tersebut. Anak kecil tersebut adalah seorang pengemis yang mengharap belas kasihan dari siapa saja yang lewat di depannya. Entah itu, seratus rupiah, lima ratus rupiah ataupun seribu rupiah., nominal kecil yang Ia harapkan. Saya melihat sebuah kaleng yang Ia pegang, berdiri tegak didepannya, dengan berisi beberapa uang receh dengan nominal uang terkecil seratus dan dua ratus rupiah, sambil kedua tangannya memegang sebuah kardus yang bertuliskan, “ Saya buta, kasihanilah Saya”. Sepuluh menit berlalu, hanya beberapa uang koin dan satu buah lembaran uang seribu rupiah yang terisi didalamnya, sambil mengelapi keringat dan mencoba untuk meraba berapa uang yang didapat dirinya hari itu.
Seorang pria kebetulan lewat di hadapan anak tersebut, Ia mengambil nilai nominal uang terkecil dan memasukannya kedalam kaleng yang telah disediakan anak buta tersebut. “Terimakasih,” kata anak tersebut, sambil tersenyum dan agak membungkukkan badannya. Namun,pria itu tidak langsung pergi, pria tersebut memandangi dan memperhatikan tulisan yang berada pada kardus sang anak tersebut. Lalu, pria itu meminjam kardus tersebut dan menulis sesuatu dibalik kardus yang masih belum ada tulisannya atau kosong. Kemudian pria itumengembalikan papan tersebut kepada anak buta tadi, lalu pergi meninggalkan anak itu. Sepeninggal dari pria tadi, uang receh mengalir deras ke dalam kaleng anak itu dai para pembeli pasar tradisional. Kurang dari satu jam, kaleng yang berukuran kaleng susu bubuk dewasa hampir memenuhi kaleng tersebut, sebuah rejeki yang menurut saya merupakan rejeki yang cukup besar untuk seorang pengemis. Tidak beberapa lama, orang tua saya dating dan mengajak Saya untuk kembali ke rumah. Namun, Saya masih ingin mengamati sang anak ini. Beberapa waktu kemudian, sang pria yang tadi menuliskan satu kalimat tadi, kembali menemui sang anak dan menyapanya. Si anak berterimakasih kepda pria itu dan menanyakan apa yang ditulis oleh lelaki itu di kardusnya, sang Pria menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi Saya tidak bisa melihatnya’. Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya banyak orang yang masih melihat. Saya tidak hanya ingin pengunjung memberikan uang dengan nominal terkecil pada kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terimakasih karena diingatkan untuk selalu bersyukur”.
Sebelumnya, membaca tulisan itu membuat hati Saya terenyuh dan selalu bersyukur apa yang telah Saya miliki saat ini. Berpikirlah dengan cara pandang yang lain, jangan membuat diri Kita menjadi rendah. Berilah orang lain rasa berterimakasih dan bersyukur kepada-Nya. Janganlah mengaggap orang lain rendah, karena belum tentu diri Kita lebih tinggi darinya.

Comments

MERAIH ASA, TANPA BERPUTUS ASA

Nama : Faqih Aulia Akbar Rasyid
NRP : H54100030
Laskar : 30
MERAIH ASA, TANPA BERPUTUS ASA
Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk menggapai cita-cita. Frase ini merupakan salah satu frase yang membuat Saya pantang menyerah untuk mendapatkan impian yang saya inginkan. Disetiap bingkai kehidupan pasti ada tantangan, sebagai anak SMA dahulu, tantangan untuk siswa seperti Saya adalah memahami apa yang dipelajari lalu mendapatkan nilai terbaik dalam setiap ujian-ujian yang dilaksanakan. Namun, masa itu telah lewat, sekarang saatnya bertambah tingkat kematangan hidup diri Saya. Sebutannya telah berganti bukan lagi siswa namun sekarang mahasiswa, bukan lagi sekolah namun sekarang kuliah. Perguruan tinggi negri atau PTN, merupakan dambaan dan impian sebagian besar siswa-siswi SMA yang telah menamatkan pendidkan di jenjangnya. Begitu pula dengan Saya, menginginkan lanjut di perguruan tinggi negri yang ternama dan selalu mencetak anak bangsa yang berkualitas. Tahun ini merupakan kesempatanSaya untuk mendapatkan perguruan tinggi negrui yang Saya inginkan. Seleksi masuk perguruan tinggi negri tidaklah mudah , dan tidak semudah perguruan tinggi swasta. Saya merasakan beberapa kali kegagalan dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negri; gagal, tidak lolos, tidak diterima dan ditolak adalah beberapa hasil dan sebuah kata yang Saya dapatkan. Namun, kegagalan sesaat tersebut bukanlah hal yang membuat Saya menjadi pesimis, justru membuat Saya menjadi lebih dewasa dan pengalaman tersebut menjadi guru bagi Saya, sehingga Saya dapat tahu sampai mana batas-batas kemampuan yang Saya miliki; dan belajar untuk menutpi kekurangan tersebut. Lalu saya mencoba untuk melanjutkan belajar dan terus belajar untuk meraih impian Saya, yaitu masuk dan lolos seleksi perguruan tinggi negri. Sebagai cadangan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, Saya memilih suatu perguruan tinggi negri lainnya dan satu perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang tidak Saya minati. Namun, masih ada cara lain untuk mendapatkan impian Saya masuk ke perguruan tinggi negri yang Saya inginkan serta dengan jurusan yang Saya minati juga. SNMPTN (Seleksi NAsional Masuk Perguruan Tinggi Negri) merupakan jalan terakhir Saya untuk masuk di perguruan tinggi yang Saya inginkan. Dengan mengucapkan bismillahhirrahmannirahim dan dengan niat yang kuat saya memilih IPB dan jurusan ekonomi syariah sebagai pilihan yang tepat bagi Saya, sewaktu mengisi formulir SNMPTN.
Pada tanggal 16-17 Juni 2010, Saya mengikuti ujian SNMPTN di sekolah yang berlokasi di Jakart Selatan, dengan bermodal niat yang kuat, ilmu-ilmu yang telah saya kuasai dan pelajari serta doa yang ikhlas saya mengikuti ujian tersebut. Ebulan kemudian, pengumuman hasil SNMPTN, pada pukul 20.00 WIB; Saya sudah pasrah dan ikhlas apapun hasilnya yang terbaik bagi Saya. Begitu senang dan bahagianya, ketika Saya disebutkan bahwa diterima di IPB demngan jrusan yang benar-benar Saya minati dan sangat tertarik. Alhamdulillah, akhirnya cita-cita yang Saya impikan selama ini dengan bekerja kleras tanpa berputus asa dn tak ada henti-hentinya berdoa, pada akhirnya terwujud juga. Dengan keinginan yang kuat, usaha yang gigih serta doa yang tiada henti adalah hal yang penting untuk meraih impian dan cita-cita.

Comments